Kendala Utama Dalam Pengembangan Nuklir Di Indonesia

 Kendala Utama Dalam Pengembangan  Nuklir Di Indonesia 


Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir masih sulit diwujudkan karena masih terkendala oleh sedikitnya lima faktor. Selain itu, tingginya risiko pembangkit listrik tenaga nuklir yang menghasilkan limbah radioaktif hingga sekarang masih mendapatkan penolakan sebagian lapisan masyarakat. 

Kendala pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia :

1. Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) belum siap menyediakan sumber daya manusia

Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN) pun menyadari hal ini. Teknologi nuklir yang sedang berkembang kini memerlukan kualitas SDM yang mumpuni agar mampu menangkap perubahan zaman. Dengan visi nuklir ramah lingkungan yang diusungnya, BATAN pun senantiasa memperhatikan SDM yang berkualitas guna menghadapi tantangan zaman. Salah satu bentuk perhatian BATAN terhadap SDM yang berkualitas adalah pendirian Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) di Yogyakarta pada tahun 2001.

Pendirian sekolah tersebut dilakukan guna menyiapkan kualitas SDM Indonesia yang mampu menjawab tantangan teknologi nuklir.

2. Belum siap menyediakan bahan bakar nuklir (yaitu uranium)

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mendapatkan bahan bakar uranium dari mulai kegiatan penambangan sampai dengan proses pembakarannya di dalam teras reaktor nuklir hingga ke pengelolaan limbah radioaktif yang ditimbulkannya. Proses-proses pada masing-masing tahapan cukup komplek, rumit dan beberapa di antaranya memerlukan teknologi tinggi. Daur bahan bakar nuklir mencakup semua proses baik fisika maupun kimia yang dilalui oleh bahan galian nuklir agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar di reaktor nuklir. Berikut ini akan dibahas tahapan-tahapan proses dalam daur bahan bakar nuklir.

3. Belum siap dalam menangani teknologi pengayaan uranium

Pengayaan dimaksudkan untuk meningkatkan kadar 235U dalam bahan bakar nuklir hasil proses pemurnian. Perlu diketahui bahwa dalam uranium alam hasil penambangan terdapat tiga jenis isotop uranium, yaitu 238U dengan kadar 99,285 %, 235U dengan kadar 0,715 % dan 234U dengan kadar yang sangat kecil. Dalam reaktor nuklir yang dapat berperan sebagai bahan bakar hanyalah 235U, sedang 238U dan 234U tidak dapat dijadikan bahan bakar karena tidak dapat melakukan reaksi fisi. Dengan proses pengayaan maka kadar 235U menjadi tinggi sehingga bahan bakar dapat dipakai dalam waktu lama. Proses pengayaan ini akan meningkatkan kadar 235U dalam bahan bakar menjadi 2-4 % seperti lazimnya dibutuhkan oleh suatu reaktor nuklir. Proses pengayaan tidak selalu dilewati oleh bahan bakar, karena ada jenis reaktor nuklir yang dapat memanfaatkan uranium alam.

4. Pemerintah belum menentukan teknologi PLTN yang akan dipakai


Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang direncanakan akan dibangun di Provinsi Bangka Belitung (Babel) atau di Jepara, Jawa Tengah. Berbagai pihak menilai Indonesia belum perlu dan sama sekali belum siap untuk membangun dan menangani PLTN yang mempunyai resiko besar dan berjangka panjang itu.Oleh karena itu, masyarakat dan semua elemen yang ada di Indonesia harus berani bersikap tegas menyikapi rencana pembangunan PLTN oleh pemerintah di Babel. Pembangunan PLTN, hanya akan melahirkan masalah baru yang kompleks dan akan terus bertahan sepanjang masa. Walau dinilai sudah mendesak di mata pemerintah, namun kenyataannya pembangunan PLTN masih bisa dikesampingkan untuk saat ini. Hal itu, menurut Wakil Ketua Dewan Energi Nasional (DEN) Sonny Keraf, karena potensi energi di Indonesia saat ini masih bisa dipasok dari energi baru dan terbarukan (EBT). Ide membangun PLTN di Indonesia saat ini sangat tidak masuk akal. “Kalau mau mengukur kapan Indonesia layak untuk membangun PLTN? Jawabannya adalah sekitar tahun 2100. Itu juga kalau masyarakat Indonesia sudah siap secara mental dan budaya. Sehingga, kalau dibangun nanti sudah bisa dikelola sendiri teknologinya,” ujar Keraf pada acara Dialog Publik: “PLTN Mendesakkah bagi Indonesia?” yang diselenggarakan Thamrin School, Institute for Essential Service Reform (IESR)  dan Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPPB), di Jakarta, Jumat (22/05/2015).
5. Penanganan Energi
Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Arya Rezavidi mengatakan, penanganan energi sebaiknya dipisahkan dengan penanganan masalah pertambangan. Gagasan mendirikan PLTN sebetulnya didorong atas kekhawatiran akan terjadinya krisis energi pada masa-masa mendatang. Kekhawatiran seperti itu hendaknya tidak perlu terjadi mengingat ketersediaan sumber energi Indonesia masih tergolong aman. Namun, persoalan yang muncul saat ini adalah kekeliruan manajemen atau penanganan sumber-sumber energi primer yang disamakan dengan hasil pertambangan lainnya. "Ekspor energi primer berupa batu bara, minyak, atau gas alam masih dipacu untuk perolehan devisa, seperti dari hasil pertambangan lainnya. Semestinya, ekspor energi primer itu dilakukan setelah keamanan energi dalam negeri dalam jangka waktu tertentu terpenuhi," kata Arya.
Arya mencontohkan, pemerintah daerah di Kalimantan Timur pernah mengeluhkan produksi listrik melalui pembangkit listrik tenaga uap terhenti karena kesulitan mendapatkan pasokan gas alam. Padahal, Kalimantan Timur termasuk wilayah eksploitasi gas alam yang paling tinggi di Indonesia. Namun, hasil eksploitasi sumber energi itu lebih banyak diekspor.

Kesimpulan :
Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir masih sulit diwujudkan karena masih terkendala oleh sedikitnya lima faktor. Selain itu, tingginya risiko pembangkit listrik tenaga nuklir yang menghasilkan limbah radioaktif hingga sekarang masih mendapatkan penolakan sebagian lapisan masyarakat.Menurut Rinaldy, sedikitnya lima faktor yang menjadi kendala pembangunan PLTN meliputi Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) belum siap menyediakan sumber daya manusia, belum siap menyediakan bahan bakar nuklir (yaitu uranium), dan belum siap dalam menangani teknologi pengayaan uranium. Selain itu, faktor kendala lain adalah pemerintah belum menentukan teknologi PLTN yang akan dipakai, kelima adalah penanganan energi yang kurang. 

Nama : Putu Septin Diah Safitri

Kelas : XII IPS 4

No. Presensi : 29

Sejarah Peminatan

"MAN 1 JEMBER"


Komentar

Posting Komentar